Pengakuan Korban Pencabulan Ustaz TPQ di Mojokerto Bikin Ortu Pingsan

Tiga murid laki-laki dicabuli ustaznya RD (40) di sebuah TPQ Kecamatan Sooko, Mojokerto. Salah satu murid laki-laki ada yang dicabuli sebanyak 25 kali. Pengakuan para korban sempat membuat salah satu orang tua pingsan.

Pelaku mencabuli tiga murid laki-lakinya bermodus membantu para korban mencapai akil balig atau cukup umur.

“Ibu korban sampai pingsan mendengar langsung pengakuan anaknya,” ujar Psikolog Women’s Crisis Center (WCC) Mojokerto R Dewi Novita Kurniawati, Minggu (26/6/2022).

Ketiga remaja laki-laki itu menceritakan semua yang mereka alami saat dihipnoterapi oleh Dewi. Menurut Dewi, korban yang berusia 12 tahun mengaku dicabuli Ustaz RD lebih dari 25 kali.

“Korban mengaku dicabuli lebih dari 25 kali. Dia selalu disukai ustaznya. Dalih pelaku korban ini ngajinya bagus, disukai murid lainnya, ada saja modus pelaku untuk membuat korban datang ke TPQ,” terang Dewi.

Begitu juga korban remaja laki-laki berusia 15 tahun. Menurut Dewi, pelajar kelas 2 SMP itu mengaku sekitar 15 kali diduga dicabuli Ustaz RD. Ibu korban sampai pingsan karena syok mendengar pengakuan putranya.

“Modusnya sama. Pengakuan dia hampir 15 kali (dicabuli) sejak korban masih SD,” cetusnya.

Tidak hanya dicabuli, tambah Dewi, para korban juga mendapat tekanan dari terduga pelaku agar tetap bungkam. Salah satunya, Ustaz RD diduga mengancam akan mengeluarkan para korban dari TPQ jika berani menceritakan perbuatannya ke orang lain.

“Dia (Ustaz RD) mendoktrin para korban jangan bilang ke siapa-siapa agar tidak dosa karena ustaz berdalih pencabulan itu untuk mengajari para korban mencapai balig. Anak-anak itu merasa dosa kalau tidak taat dengan ustaz. Karena filter mereka juga belum jalan,” tandasnya.

Orang tua para korban melaporkan Ustaz RD ke Polres Mojokerto pada 10 Mei 2022. Polisi sendiri menyatakan kasus pencabulan ini pada tahap penyidikan. Namun, terduga pelaku belum ditahan.

Sejauh ini, mereka baru menemukan 3 murid di TPQ tersebut yang berani buka mulut dan melapor ke polisi. Yaitu dua remaja laki-laki berusia 12 tahun dan satu remaja laki-laki berusia 15 tahun. Mereka tinggal satu desa dengan Ustaz RD.

“Tiga korban ini awalnya tidak berani menceritakan ke orang lain karena sudah mendapat tekanan dari pelaku. Juga muncul opini di masyarakat setempat agar masalah ini ditutupi saja. Padahal, mereka generasi bangsa, ke depan moral mereka seperti apa kalau dirusak seperti itu. Maka cara satu-satunya saya lakukan hipnoterapi sehingga mereka bisa menceritakan semuanya apa adanya,” tandasnya.(tim/Sam)

Baca juga :