Pelayan Kopi Pangku Blak-blakan Gaji hingga Tip Karaoke

 

Warung Kopi Pangku di Gresik terkenal dengan pelayan yang berpakaian seronok. Harga secangkir kopi yang lebih mahal dari warkop biasa membuat bisnis warung kopi pangku ini menjamur.

Selain pemilik warung, para wanita yang direkrut dari luar kota pun tak keberatan menerima gaji sebesar Rp 1,5 juta dengan tugas utama membuatkan kopi dan menemani pelanggan.

Para wanita yang kebanyakan mantan Ladies Companion (LC) di rumah karaoke pun beralih menjadi pelayan warung kopi di Gresik. Mereka betah karena selain gaji juga mendapat tip dari pelanggan yang ingin ‘pelayanan ekstra’.

Salah satu pelayan warung kopi pangku di Gresik IN mengatakan sebelum di warkop ia bekerja sebagai pemandu lagu di Kota Blitar. Pandemi COVID-19 memaksanya pindah wilayah.

“Dulu saya murel (LC). Sejak COVID-19 itu kafe tutup. Jadi saya pindah ke Kediri sampai Tulungagung. Di sana juga banyak warung karaoke kayak gini. Lalu saya dapat tawaran dari FB kerja jaga warkop gaji Rp1,5 juta. Kerjanya kayak gini aja. Ya, mau, saya,” kata IN, Sabtu (4/6/2022).

IN mengaku hanya bertugas membuatkan kopi dan mencuci gelas. Sebab, warung menyediakan fasilitas karaoke, kadang-kadang ia menemani pelanggan yang ingin bernyanyi bersamanya.

“Kalau menemani nyanyi, ya, kadang diberi tip. Kadang Rp 20 ribu kadang Rp 50 ribu. Tergantung orangnya si mas,” katanya.

Mengenai pelayanan ekstra di warung kopi pangku, ia membenarkan banyak warung kopi yang menyediakan beberapa wanita seperti itu. Tapi menurutnya tidak semua penjaga warkop mau melayani plus-plus.

“Kalau saya sendiri hanya bertugas membuatkan kopi dan menemani tamu. Ya, pemilik mintanya pakai pakaian seksi. Tapi saya nggak mau di pangku sama pelanggan,” ujar IN.

Ia menyebutkan, wanita di warung kopi yang seringkali memberikan pelayanan ekstra seperti dipangku, dipeluk, hingga dicium itu kebanyakan adalah mereka para mantan LC dari kota yang bekerja secara lepas di warkop.

Mereka tidak digaji oleh pemilik warung, tapi mengandalkan tip yang didapat dari para pelanggan yang ingin ditemani saat bernyanyi, ingin memangku, memeluk bahkan mengajak ‘tidur’.

“Kalau di sini ada dua freelance. Biasanya yang menemani pelanggan menyanyi kadang sampai dirangkul-rangkul ngunu (dipeluk-peluk begitu). Lha, dari situ biasa mendapatkan tip. Kalau mau pelayanan lain, mereka lanjut check in di hotel atau penginapan,” kata IN.

Untuk mendapatkan pelayanan plus-plus, para penjaga warkop atau pekerja lepas itu pilih-pilih pelanggan. Pelanggan baru tentu akan sulit untuk mendapat pelayanan yang memuaskan nafsu birahi.

Selain belum mengenal, para wanita di warung kopi pangku itu juga tidak ingin hal buruk menimpa mereka. Misalnya sampai harus berurusan dengan petugas polisi yang sedang menyamar.

“Kalau kata temen saya di sana, biasanya menolak ajakan pelanggan baru yang minta plus-plus atau sekadar mangku. Selain belum kenal dan takut diapa-apain seperti dianiaya atau sampai dibunuh, teman saya juga takut berurusan dengan petugas yang kadang nyamar jadi pelanggan,” kata IN.(tim/Sam)

Baca juga :