LPS: Simpanan Nasabah di Bank Makin Meningkat Selama Pandemi Covid-19

[ad_1]

SURABAYA – Trend penyimpanan dana di bank yang dilakukan masyarakat selama pandemi Covid 19 mengalami kenaikan. Selain karena masyarakat semakin sadar pentingnya menyimpan dananya di bank, juga banyak masyakat yang terjun di investasi seingga memerlukan rekening perbankan.

Menurut Dimas Yuliharto, Sekretaris Lembaga Penjamin Simpanan, hingga Januari 2022, data total  simpanan bank umum naik 12,06 persen atau Rp 800,4 triliun dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year on year/yoy) dengan nilai sebesar Rp 7.439 triliun.

Sementara jumlah rekening dengan saldo kurang dari Rp 2 miliar meningkat 26 persen (yoy) atau 91,73 juta rekening. Sedangkan jumlah rekening dengan saldo lebih dari Rp 2 miliar atau meningkat 6,38 persen (yoy) atau naik 19 ribu rekening.

Menurut Dimas, peningkatan ini disebabkan banyak factor. Selain masyarakat semakin sadar untuk menyimpan dananya di bank, juga banyak generasi muda yang mulai terjun dalam investasi sehigga memerlukan rekening bank.

“Namun banyak juga masyarakat menengah bawah yang butu rekening untuk menyimpan dananya,” kata Dimas Yuliharto, Selasa (29/3).

Dia mengaku, nilai total simpanan dengan saldo kurang dari Rp 2 miliar naik Rp 130,5 triliun atau tumbuh  4,53 persen (yoy). Sedangkan nilai total simpanan pada tier dengan saldo lebih dari Rp 2 miliar  meningkat 17,82 persen (yoy) dengan nilai Rp 669,9 triliun.

SImpanan nasabah diperkirakan akan terus meningkat tahun ini. Hal ini karena imbas dari semakin membaiknya perekonomian di Indonesia. Selain itu, kepercayaan masyarakat terhadap perbankan juga terjaga dengan baik.

Sementara itu, data LPS menyebutkan, sepanjang 2020–2021 LPS telah memangkas tingkat bunga penjaminan (TBP) sebesar 275 basis poin (bps) TBP rupiah dan 150 bps TBP valas. TBP rupiah bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) periode 29 Januari sampai 27 Maret 2022 masing-masing sebesar 3,5 persen dan enam persen, sedangkan TBP valas bank umum sebesar 0,25 persen.

“Akibat penurunan TBP, suku bunga deposito 1 dan 3 terpantau turun 152 bps dan 149 bps meskipun penurunannya semakin melambat. Hal itu membuat cost of fund perbankan juga menurun sehingga mendukung penurunan suku bunga kredit,” tandas Dimas.

Terkait pembayaran klaim nasabah bank yang dilikuidasi, Dimas menyebutkan, berdasarkan data kliam penjaminan per Februari 2022, total simpanan atas bank yang dilikuidasi Lembaga Penjamin Simpanan atau LPS mencapai Rp 2,084 triliun.

Dari total simpanan tersebut, sebanyak Rp 1,712 triliun (82,14 persen) dinyatakan layak bayar dan telah dibayarkan LPS kepada 266.000 rekening. Sebanyak Rp 372 miliar (17,86 persen) milik 19.000 rekening nasabah bank yang dilikuidasi dan dinyatakan tidak layak bayar karena tidak memenuhi ketentuan LPS (syarat 3T). Sekitar 76,62 persen simpanan yang tidak layak bayar karena bunga simpanan yang diterima nasabah melebihi tingkat bunga penjaminan LPS.

Oleh karena itulah, dia menegaskan, LPS mengimbau nasabah perbankan untuk taati syarat-syarat penjaminan LPS. Dia juga meyakinkan, nasabah tidak perlu ragu untuk menabung di bank, karena sudah ada LPS yang menjamin simpanan hingga Rp 2 miliar per-nasabah per-bank.

“Kami akan terus melakukan sosialisasi pada masyarakat tentang syarat penjaminan simpanan 3 T yakni tercatat pada pembukuan bank, tingkat bunga simpanan tidak melebihi bunga penjaminan LPS, dam tidak menyebabkan bank menjadi bank gagal misalnya memiliki kredit macet,” pungkas Dimas Yuliharto. (fix/jay)

[ad_2]

Dikutip dari: Sumber Berita (Naskah Asli)

Baca juga :