Awas Bom Waktu Omicron, Kasus Aktif Covid-19 di Ponorogo Capai Belasan

[ad_1]

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Alarm bahaya serangan Covid-19 sayup-sayup mulai terdengar. Sewaktu-waktu dapat meledak. Kemarin (31/1) bertambah empat kasus aktif coronavirus hingga tercatat total 15 pasien. Namun, semuanya bergejala ringan hingga sebatas menjalani isolasi mandiri. Kabid Penanganan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo Heni Lastari menyebutkan, tujuh pasien di antaranya berdomisili di luar kota. ‘’Hanya delapan pasien yang bertempat tinggal di Ponorogo,’’ kata Heni, Selasa (1/2).

Dari hasil pelacakan, ke-15 pasien itu belum pernah menjalani vaksinasi anti-Covid-19. Namun, terlalu prematur memvonis bahwa belasan kasus aktif coronavirus yang muncul terpapar Omicron. Heni sebatas mengatakan bahwa vaksin amat ampuh menangkal virus korona agar tidak masuk tubuh. Pun fatality rate (tingkat kematian) selama ini bergantung pada vaksinasi. Kendati faktor komorbid (penyakit bawaan) ikut berpengaruh. ‘’Tingkat titer antibodi pasien komorbid itu biasanya rendah sehingga risiko meninggal dunia tetap tinggi meskipun sudah menerima vaksinasi,’’ jelasnya.

Dia melansir pendapat pakar epidemiologi bahwa lonjakan kasus aktif Covid-19 bakal mengancam hingga Maret mendatang. Itu bersamaan masuknya varian Omicron yang dibawa pelaku perjalanan dari luar negeri. Heni mengkhawatirkan longgarnya pintu kedatangan di Bandara Juanda bagi pekerja migran Indonesia (PMI). ‘’Mobilitas masyarakat juga semakin tinggi belakangan ini,’’ terangnya.

Heni menuturkan, masa inkubasi varian Omicron selama 14 hari. Kendati gejalanya tidak seberat varian Delta, namun persebaran varian virus baru itu lebih cepat. Dia menyarankan khalayak tetap patuh menegakkan protokol kesehatan.  Bersamaan itu, mengurangi mobilitas. ‘’Semua kasus Covid akan selalu berhubungan dengan PPKM,’’ ungkapnya. (mg7/c1/hw/her)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Alarm bahaya serangan Covid-19 sayup-sayup mulai terdengar. Sewaktu-waktu dapat meledak. Kemarin (31/1) bertambah empat kasus aktif coronavirus hingga tercatat total 15 pasien. Namun, semuanya bergejala ringan hingga sebatas menjalani isolasi mandiri. Kabid Penanganan dan Pencegahan Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan (Dinkes) Ponorogo Heni Lastari menyebutkan, tujuh pasien di antaranya berdomisili di luar kota. ‘’Hanya delapan pasien yang bertempat tinggal di Ponorogo,’’ kata Heni, Selasa (1/2).

Dari hasil pelacakan, ke-15 pasien itu belum pernah menjalani vaksinasi anti-Covid-19. Namun, terlalu prematur memvonis bahwa belasan kasus aktif coronavirus yang muncul terpapar Omicron. Heni sebatas mengatakan bahwa vaksin amat ampuh menangkal virus korona agar tidak masuk tubuh. Pun fatality rate (tingkat kematian) selama ini bergantung pada vaksinasi. Kendati faktor komorbid (penyakit bawaan) ikut berpengaruh. ‘’Tingkat titer antibodi pasien komorbid itu biasanya rendah sehingga risiko meninggal dunia tetap tinggi meskipun sudah menerima vaksinasi,’’ jelasnya.

Dia melansir pendapat pakar epidemiologi bahwa lonjakan kasus aktif Covid-19 bakal mengancam hingga Maret mendatang. Itu bersamaan masuknya varian Omicron yang dibawa pelaku perjalanan dari luar negeri. Heni mengkhawatirkan longgarnya pintu kedatangan di Bandara Juanda bagi pekerja migran Indonesia (PMI). ‘’Mobilitas masyarakat juga semakin tinggi belakangan ini,’’ terangnya.

Heni menuturkan, masa inkubasi varian Omicron selama 14 hari. Kendati gejalanya tidak seberat varian Delta, namun persebaran varian virus baru itu lebih cepat. Dia menyarankan khalayak tetap patuh menegakkan protokol kesehatan.  Bersamaan itu, mengurangi mobilitas. ‘’Semua kasus Covid akan selalu berhubungan dengan PPKM,’’ ungkapnya. (mg7/c1/hw/her)

[ad_2]

Dikutip dari: Sumber Berita (Naskah Asli)

Baca juga :